
Batampedia.com – Batam,. Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap peran santri dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa ini.
Peringatan hari santri ini, tentunya bukan sekedar peringatan seremoni. Tetapi, ini merupakan salah satu manifestasi dari rekognisi negara terhadap kontribusi pesantren dan para santri dalam sejarah sosial-politik di Indonesia.
Dalam konteks pendidikan, pentingnya peringatan Hari Santri tidak hanya dapat dilihat dari dimensi historis, tetapi juga dari perspektif sosiologis, politik, hukum, dan keislaman.
Pertanyaan mendasarnya adalah: seberapa pentingkah peringatan Hari Santri dalam konteks keindonesiaan dan keislaman modern?Perlu ditegaskan, bahwa santri memiliki akar historis dan epistemologis yang panjang.
Dalam perspektif sosiologi klasik, oleh Clifford Geertz (1960) memetakan masyarakat Jawa menjadi tiga golongan yaitu: abangan, priyayi, dan santriSantri di sini digambarkan sebagai kelompok yang menjaga dan mengajarkan nilai-nilai Islam.
Namun dalam konteks masa dewasa seperti hari ini, santri tidak hanya berarti pelajar di pesantren, melainkan telah menjadi simbol peradaban Islam yang berkiprah dibanyak tempat.
Dari sudut pandang politik dan hukum, penetapan Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 menunjukkan bentuk afirmasi negara terhadap eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan dan kekuatan moral bangsa.
Sementara secara ideologis, peringatan hari santri menegaskan ulang tentang prinsip-prinisp hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman), sebagaimana tertanam dalam tradisi pesantren, khususnya pesantren yang terafiliasi pada Nahdlatul Ulama.
Adapun dalam perspektif teologi, santri adalah representasi dari ahl al-‘ilm wa al-jihad artinya, santri adalah sekumpulan pelajar yang berjuang dengan ilmu dan akhlak. Dan ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Oleh karena itu, penghormatan terhadap santri bukan hanya penghargaan sosial belaka tetapi juga pengakuan atas jihad keilmuan dan spiritual yang mereka lakukan.
Santri adalah figur yang memadukan kedalaman spiritual dan kecerdasan intelektual. Dalam pandangan Nurcholish Madjid, santri merupakan manifestasi dari kebangkitan Islam rasional, yakni Islam yang mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan substansinya.
Oleh karena itu, Hari Santri bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum reflektif untuk meneguhkan peran santri dalam rekonstruksi moral bangsa.
Dengan demikian, sepertinya tidak berlebihan jika peringatan hari santri dikatakan sebagai simbol pengakuan atas peran pesantren dan santri dalam membangun Indonesia yang religius, moderat, dan berkeadaban. *IRN